Laman

Minggu, 22 April 2012

"Selamat Jalan Sahabat"

Suasana Kota Surabaya yang amat panas. Di kamar yang sepi dan sunyi, hanya ada aku sendirian. Teman-teman kamarku semuanya pulang. Tidak tau apa yang akan aku lakukan. Aku termenung beberapa saat. Tiba-tiba terlintas dalam benakku sosok sahabat yang kini telah tiada. Ia adalah Nabila. Ia telah meninggalkanku dan teman-teman yang lain sejak lima tahun lalu, tepat pada akhir kelas tiga SMA. Ia adalah sosok sahabat yang baik, lemah lembut, sopan, dan rela berkorban demi orang lain. Ia selalu mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri. Ia selalu menjaga perasaan orang lain dari pada menjaga perasaannya sendiri.
Terlihat bulan yang bersinar terang, di kelilingi oleh bintang-bintang dengan cahayanya yang indah. Suasana di pondok pesantren An-Nur mulai sepi dan sunyi. Banyak santri yang telah terlelap dan telah berada di dunia mimpi masing-masing. hanya ada beberapa yang belum tidur, karena masih belajar dan mengerjakan PR. “Kamu belum ngantuk, Nabila?” tanyaku pada Nabila. “Belum bisa tidur nih, padahal tadi udah sempat ngatuk. Kamu sendiri belum tidur, Dina?” kata Nabila padaku. Kemudian aku menjawab, “Iya ini saya mau tidur, Nabila. Saya tidur dulu ya, selamat malam.” “oke..!! selamat malam juga.” jawabnya singkat. Entah apa yang dilakukan Nabila, ia terlihat masih menulis di buku catatan kecilnya, semacam buku diary. Namun aku tak mempedulikannya. Karena saat itu mataku sudah sangat ngantuk. Kemudian aku terlelap dan tiba di alam mimpi.
Matahari bersinar cerah menyambut pagi yang indah. Kicauan burung yang terbang ke sana ke mari. Air sungai mengalir dengan tenang nan damai. Dedaunan melambai-lambai dan menari dengan alunan suara angin yang berhembus. Sungguh suasana pagi yang cerah dan menyejukkan. Begitu juga suasana di SMA Mawar, siswa-siswi terlihat cerah wajahnya dengan saling melontarkan senyum dan sapa pada yang lain. Lima menit setelah bel berbunyi, pak guru masuk ke kelas kami. Kini pelajaran Matematika siap dimulai sampai jam istirahat nanti.
“Waktunya istirahat.” Kata teman sekelasku, Linda. “ke kantin yuk.” Kata Nia mengajak kita ke kantin. “Ayo..” jawab teman-teman serentak, kecuali Nabila dan aku. “Maaf teman-teman, kita tidak bisa ikut, soalnya kita mau ke perpustakaan.” Kata Nabila. “Baiklah, tidak apa-apa Nabila.” Jawab Linda dengan tersenyum. Saat itu teman-teman pergi ke kantin. Sedangkan aku dan Nabila pergi ke perpustakaan. Selama sepuluh menit kita baru menemukan buku-buku yang dicari. “Maaf mbak, ada satu buku yang belum dikembalikan. Jadi anda tidak dapat meminjamnya.” Kata petugas perpustakaan pada Nabila. “Maaf pak, kemarin bukunya sudah dikembalikan oleh teman saya.” Jawab Nabila dengan terkejut. “Tapi di kartu anda belum terlihat keterangan bahwa buku tersebut telah dikembalikan.” Kata petugas perpustakaan. “Maaf pak, bolehkah saya meminta nomor reg buku itu, biar saya cari di dalam.” Kemudian petugas perpustakaan itu memberikan nomor reg buku tersebut pada Nabila.
“Siapa yang mengembalikan buku itu, Nabila?” tanyaku pada sebelum Nabila masuk lagi ke dalam perpustakaan. “waktu itu Ifa yang meminjamnya tapi pakai kartuku, dan katanya kemarin sudah dikembalikan. Emm.. Dina, kamu tunggu saja di luar ya, atau kalau aku nanti lama, kamu ke kelas saja duluan tidak apa-apa.” Jawabnya. “Baiklah Nabila, tapi sebentar lagi sudah bel masuk. Apa sebaiknya tidak dicari besok saja?” kataku. “Tidak Dina, soalnya buku mau aku pinjam ini penting sekali. Buku-buku ini mengenai penulisan karya ilmiah. Aku harus menyelesaikan karya ilmiahku dua hari lagi. Karya ilmiah itu sangat penting bagiku. Karena jika aku menang dalam lomba karya ilmiah ini, maka aku bisa kuliah. Karena itu sebagai persyaratannya.” Kata Nabila dengan wajah yang cemas. “Baiklah kalau begitu, Nabila. Semoga bukunya segera ketemu ya.” Jawabku. “Iya, Amin.” Kata Nabila.
Nabila sangat menginginkan bisa kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia berharap bisa menjadi juara dalam perlombaan menulis karya ilmiah. Karena dengan cara itu, ia bisa kuliah. Ia adalah sosok yang pintar, jenius, dan penuh semangat. Ia telah berkali-kali mengikuti tes ujian masuk perguruan tinggi dengan program beasiswa. Namun ia belum diterima. Hanya saja perekonomian orang tuanya tergolong kurang mampu. Jadi ia tidak ingin memberatkan atau membebani kedua orang tuanya lagi untuk melanjutkan ke bangku perkuliahan.  
Aku menunggu Nabila di depan perpustakaan seorang diri. Namun, ketika aku melihat jam, ternyata sudah jam sepuluh dan bel masuk telah berdering. Terpaksa aku meninggalkan Nabila di perpustakaan. Karena jika tidak, kami akan dicari dan ditanyakan oleh guru. Namun, dengan aku kembali ke kelas lebih dulu, aku akan menjelaskannya pada pak guru bahwa Nabila masih mencari buku di perpustakaan. Tidak lama kemudian, Nabila masuk ke kelas dengan tangan kosong. Ia tidak membawa buku-buku yang telah ia cari bersmaku tadi. Artinya buku itu belum ditemukan.
Setelah mata pelajaran Fisika selesai, aku dan teman-teman sekelas yang lain menunggu guru Bahasa Inggris yang merupakan jam mata pelajaran terakhir. “Nabila, bagaimana bukunya?” tanyaku pada Nabila. “Tidak ketemu, Dina.” Jawabnya singkat. Kemudian aku pergi ke bangku Ifa, “Ifa, apa benar kamu sudah mengembalikan buku Biologi yang kamu pinjam dengan kartu Nabila?” dengan polosnya Ifa menjawab, “Oiya Maaf saya lupa, yang saya kembalikan kemarin itu Kamus Biologi. Dan buku paket Biologinya ada di rumah saya, nanti saya ambil aja ke rumahku ya Nabila.” “Oh..begitu, ya udah tidak apa-apa Ifa, biar nanti saya ambil ke rumahmu.” Jawab Nabila. Kebetulan rumah Ifa dekat dengan pesantren yang kita tempati.
Beberapa menit kemudian pak guru datang dan memulai pelajaran Bahasa Inggris. Kali ini, pak guru memberi tugas mentranslate sebuah lagu ke dalam Bahasa Inggris. Sebelum kita mengerjakannya, kita disuruh mendengarkan lagu tersebut. Ternyata itu lagu yang cukup terkenal. Yah itu adalah lagu berjudul Saat Kau Pergi yang dipopulerkan dan dinyanyikan oleh Vagetoz. Dan itu adalah lagu favorit Nabila. Setelah mendengarkan lagu, tidak sengaja kulihat wajah Nabila berbeda dari biasanya. Ia terlihat lebih cantik dan merona. “Tapi kenapa Nabila memandang teman-teman satu per satu. Ia juga memandang seluruh isi yang ada di kelas itu.” Kataku dalam hati. Namun aku segera mengalihkan pandangan karena tugasku belum selesai.
Sepulang sekolah dan selesai sholat Dhuhur, Nabila pergi ke rumah Ifa untuk mengambil buku. Kemudian ia mengembalikan buku itu ke perpustakaan sekolah. “Alhamdulillah, akhirnya aku bisa meminjam buku-buku ini.” Ujarnya. Setelah mengembalikan dan meminjam buku-buku tentang karya ilmiah, ia langsung kembali ke pesantren. Ketika ia hendak menyeberang di jalan raya depan SMA Mawar, ia melihat seorang nenek yang hendak menyeberang juga. Jadi ia menolong dan mengajak nenek tersebut menyeberang. Ketika sampai di perseberangan jalan, ia melihat sebungkus nasi jatuh di tengah jalan. Dan ia berfikir bahwa nasi itu kepunyaan nenek yang telah ia tolong. Tanpa berfikir panjang ia langsung mengambil nasi tersebut. Nenek berteriak, “Hati-hati nak, ada truk di belakangmu.” Nabila tidak terdengar suara nenek tersebut, dan tanpa disadari. “Braaaaaaaaak…” Suara keras truk telah menabrak Nabila. Berceceran darah yang keluar dari kepala Nabila. Ia tergeletak tak sadarkan diri. Ketika itu pula, ia langsung dilarikan ke rumah sakit.
Beberapa jam setelah kecelakaan itu, aku dan ibu Nabila datang ke rumah sakit. Kami berdua berharap agar ia segera sadar dan kembali tersenyum. Ia sangat berarti bagiku. Ia adalah sahabat yang pengertian. Ia tak pernah merasa mengeluh. Saat itu ayah Nabila tidak bisa ikut ke rumah sakit, karena ayah Nabila juga sedang sakit. “Nak, sebaiknya kamu kembali ke pesantren, biar saya yang menjaga Nabila di sini. Bukankan besok kamu harus sekolah, dan sebentar lagi Ujian Nasional, jadi kamu harus belajar.” Kata Ibu Nabila padaku. “Tidak Bu, saya ingin ada di samping nabila saat ia sadar.” Jawabku. “Jangan nak, kamu harus kembali dan istirahat, tentu Nabila juga tidak ingin kamu kecapekan. Tidak apa-apa biarkan saya yang menjaganya. Kalau nanti ada apa-apa, saya akan kabari kamu, nak.” Kata Ibu Nabila dengan mengelus jilbabku. “Baiklah Bu, kalau negitu saya pulang dulu, Asslamu’alaikum.” Kataku berpamitan dan mencium tangan Ibu Nabila. “Wa’alaikumsalam, hati-hati nak.” Katanya. “Baik Bu.” Jawabku.
Satu hari setelah kecelakaan Nabila, suasana menjadi sangat berbeda. Suasana pagi itu terasa amat dingin tidak seperti biasanya. Angin bertiup kencang. Tapi langit tampak cerah. Aku tidak tau apa yang sedang terjadi.
Ketika jam istirahat, ibu guru memberi kabar bahwa baru saja ibu Nabila menelfon pihak sekolah. Ia memberitahukan bahwa Nabila sudah meninggal. Aku sangat terkejut dan seakan tidak percaya dengan kabar itu. Tidak hanya aku, teman-temanku juga tidak mempercayainya. Namun, hal itu memang benar-benar telah terjadi pada Nabila. Air mata ini tiba-tiba mengalir dengan deras seperti sungai. Aku tak bisa lagi membendungnya. Aku kehilangan sahabat yang sangat baik dan berarti bagiku. Ketika itu tiba-tiba aku mengalihkan pandangan pada Ifa, “Ifa, kenapa kamu menyuruh Nabila pergi ke rumahmu dan mengambil buku itu? Seharusnya kamu yang bertanggung jawab mengembalikannya. Karena kamu sebenarnya yang meminjam buku itu. Seandainya kamu tepat waktu mengembalikan buku itu. Maka hal ini tidak mungkin terjadi. Dan Nabila pasti masih ada di sisi kita.” Kataku dengan deraian air mata. “Tenang Dina, tenang, semua ini sudah takdir Allah. Mungkin Allah telah merindukan Nabila agar kembali kesisi-Nya. karena Nabila adalah orang yang baik dan taat. Kita harus ikhlas dan kita tidak boleh menyalahkan siapa pun. Karena semua ini sudah ada dicatatan Allah.” Linda mencoba menenangkan hatiku. “Iya.. maafkan aku Ifa.” Kataku singkat. “Iya tidak apa-apa Dina, aku mengerti perasaanmu.” Jawab Ifa.
Pada siang harinya, aku, teman-teman, para guru, bahkan Kyai Sholeh pun ikut mensholati jenazah Nabila. Rumah dan halamnnya dipenuhi oleh orang-orang yang mengenalnya. Ketika itu aku melihat wajah Nabila untuk terakhir kalinya. Wajah Nabila begitu berseri, ia terlihat amat cantik. Dan ia pergi dengan senyum yang indah dibibirnya.
Setelah acara pemakaman, ibu Nabila memanggilku, “Dina, sebelum Nabila pergi, ia sempat sadar. Namun hanya dalam beberapa menit saja. Pada waktu itu ia menitipkan salam untukmu. Ia minta maaf atas segala kesalahannya padamu. Ia sangat senang bisa memiliki sahabat sepertimu.”. aku tak bisa menahan tangis lagi, aku langsung memeluk ibu Nabila seraya berkata, “Iya Bu, aku juga sangat senang mempunyai sahabat seperti Nabila. Ia adalah anak yang baik dan pintar. Ia selalu ada disaat aku membutuhkannya. Tapi aku jarang ada disaat ia membutuhkan aku. Ada satu hal yang aku sesali, Bu.” “Apa itu nak?” Tanya Ibu Nabila. “aku belum sempat meminta maaf dan mengucapkan terimakasih padanya, Bu.” Jawabku. “Ibu yakin Nabila sudah memaafkanmu nak, walaupun kamu belum meminta maaf padanya. Sudahlah, kamu jangan menyesalinya. Kita tidak boleh menangis lagi. Karena Nabila pasti akan sedih jika kita masih menangis.” Kata-kata ibu Nabila menenangkanku.
Dengan langkah yang berat, aku kembali ke pesantren. Ketika tiba di kamar, bayangan Nabila seperti tidak hilang. Ia seperti masih ada di kamar. Kubuka lemariku, tiba-tiba terlihat buku kecil berwarna ungu. Ternyata itu adalah buku catatan atau buku diary Nabila. Aku tidak tau kenapa buku itu bisa ada di lemariku. Setelah kulihat ternyata tanpa kusadari, Nabila telah menulis sesuatu di kertas lemariku. Yang isinya, “Dina, aku berikan buku ini ke kamu ya, anggap saja ini sebagai kenang-kenangan dariku. Karena sebentar lagi kita akan berpisah. Dibuku itu kutulis berbagai macam kenangan persahabatan kita. Di dalamnya juga ada catatan pribadiku. Kamu bisa membacanya kapanpun yang kamu mau. Dan ada satu hal yang tidak mungkin terjadi padaku, oleh karena itu kamu harus melakukannya untukku, Dina. Hal itu kutulis dihalaman terakhir.” Aku penasaran dan membuka buku itu, kemudian membacanya. Dihalaman pertama kubaca tulisan:
“Aku bukan orang yang pintar,
namun aku ingin menjadi orang yang baik.
Aku memang bukan orang yang cantik,
namun aku akan melakukan yang terbaik buat orang-orang disekitarku”
Dan diakhir tulisannya kubaca:
Untuk Kak As’ad: “Sejak pertama kali bertemu denganmu, aku merasakan perasaan yang berbeda. Setiap kali aku bertemu denganmu, aku menundukkan kepala karena malu. Tapi aku sangat senang jika bertemu denganmu. Selama tiga tahun ini, baru aku sadari, ternyata perasaan yang aku alami adalah perasaan cinta terhadapmu. Tapi aku tidak berani mengungkapkannya. Karena aku sadar, aku bukan siapa-siapa.”
Untuk Bapak dan Ibu tercinta: “Bapak.. ibu.. Nabila merasa berbeda akhir-akhir ini. Nabila kakak telah menungguku di seberang jembatan. Jika memang ini saatnya Nabila harus pergi. Maka maafkan atas semua kesalahan Nabila pada bapak dan ibu. Selama Nabila hanya bisa menyusahkan bapak dan ibu. Dan  terimakasih untuk semuanya, untuk kasih sayang kalian pada Nabila.”
 Untuk Dina, sahabatku: “Jika memang ini adalah hari terakhirku untuk hidup di dunia. Maka aku ingin kamu yang akan hidup dengan Kak As’ad. Aku tau kau juga menyukainya. Oleh karena itu, aku ingin kau bahagia bersamanya. Dan aku yakin Kak As’ad juga menyukaimu. Karena ia pernah Tanya padaku tentangmu.”
Deraian air mata ini tak bisa kubendung lagi. Air mata mengalir deras membasahi pipiku. Lagi-lagi aku menyesal, “mengapa selama ini aku tidak menyadari bahwa Nabila juga menyukai Kak As’ad? Maafkan aku Nabila.
Kemudian di bawah tulisan-tulisan itu, kutulis:
“Selamat jalan sahabat. Terimakasih atas kebaikanmu selama ini. Terimakasih kau telah hadir dalam hidupku. Maafkan jika aku banyak salah padamu. Maafkan aku tidak menyadari bahwa kamu juga mencintai Kak As’ad.
Mungkin batu nisan memisahkan raga kita. Namun batu nisan tidak akan bisa memisahkan jiwa kita. Jiwa kita akan selalu bersama. Sekali lagi, Selamat Jalan sahabatku..”
Waktu cepat berlalu. Kini empat puluh hari setelah kepergian Nabila. Ujian nasional pun telah berlalu satu minggu yang lalu. Bapak kepala sekolah mengumumkan siswa-siswi yang diterima diperguruan tinggi negeri dengan jalur beasiswa. Salah satunya adalah Nabila, ia diterima di IPB karena hasil karya tulisnya yang bagus dan mendapatkan juara 1 tingkat nasional. “Andai saja Nabila ada di sini sekarang, pasti ia sangat senang,” batinku. Dan satu hal yang tidak aku sangka, ternyata aku juga diterima di Universitas Airlangga Surabaya jurusan Fisika, sesuai dengan keinginan dan impianku selama ini. “Alhamdulillah Ya Allah.” Ucapku bersyukur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar