Laman

Minggu, 29 April 2012

Dakwah Pengembangan Masyarakat Islam


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sejarah sosial umat Islam lahir, tumbuh dan berkembang tidak bisa dipisahkan dengan riwayat jatuh bangunnya proses sosial umat Islam dalam berdakwah, secara teologis dakwah dianggap (mission Sacre) proyek berpahala dan kedudukan dakwah itu sendiri bersifat conditio sine quanon adanya, tidak tercegah dan inheren. Tentang kenyataan ini harus diakui benar bahwa Nabi Muhammad SAW mengatakan dalam pesannya “Sampaikan apa yang kamu terima dariku meski satu ayat” karenanya wajar dalam pentas sejarah pendekatan kerja dakwah terus terlahir baik yang bersifat teknis operasional maupun yang konseptual tentu saja tidak bisa dilepas dengan konteks sosial, realitas yang spesifik, dakwah bersifat dinamis seiring dengan perkembangan laju persoalan dan kebutuhan masyarakat.
Masyarakat dalam kehidupan selalu mengalami perubahan-perubahan baik perubahan yang alami maupun yang dirancang oleh masyarakat itu sendiri. Perubahan itu tidak selalu lebih baik bahkan sering terjadi sebaliknya. Manusia akan mengalami krisis identitas dirinya sebagai makhluk yang mulia disisi Allah maupun bagi sesamanya. Karena itu dakwah juga mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan tranformasi sosial yang berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dakwah dalam bentuk pengembangan masyarakat yaitu proses dari serangkaian kegiatan yang mengarah pada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat serta kebahagiaan masyarakat serta upaya meningkatkan kesadaran dari  prilaku tidak baik untuk berprilaku yang lebih baik.
Idealnya pengembangan dakwah yang efektif harus mengacu pada masyarakat untuk meningkatkan kwalitas keislamannya, sekaligus juga kwalitas hidupnya. Dakwah tidak saja memasyarakatkan hal-hal yang religius Islami, namun juga menumbuhkan etos kerja. Inilah yang sebenarnya diharapkan oleh dakwah bil hal yang sering disebutkan oleh para mubaligh. Dakwah bil hal bukan berarti tanpa maqal melainkan lebih ditekankan pada sikap prilaku dan kegiatan-kegiatan nyata yang secara interaktif mendekatkan masyarakat pada kebutuhannya yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi peningkatan keberagamaan.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Dakwah dan Definisi tentang Pengembangan Masyarakat Islam?
2.      Apa Konsep dan Tujuan Dakwah Pengembangan Masyarakat Islam?
3.      Bagaimana Etika Dakwah dalam Masyarakat?
4.      Bagaimana Efektivitas Dakwah Bil Hal?
5.      Bagaimana Pendekatan Psikologis Melalui Dakwah Bil Hal?
1.3  Tujuan
1.      Agar mengetahui  Pengertian Dakwah dan Definisi Dakwah Pengembangan Masyarakat Islam
2.      Agar mengetahui Konsep dan Tujuan Dakwah Pengembangan Masyarakat Islam
3.      Agar mengetahui Etika Dakwah dalam Masyarakat
4.      Agar mengetahui Efektivitas Dakwah Bil Hal
5.      Agar mengetahui Pendekatan Psikologis Melalui Dakwah Bil Hal
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Dakwah dan  Definisi Tentang Pengembangan Masyarakat Islam
2.1.1  Pengertian Dakwah
Ditinjau dari segi bahasa, dakwah berasal dari bahasa Arab “da’wah” (عوةالد). Dakwah mempunyai tiga huruf asal, yaitu dal, ‘ain, dan  wawu. Dari ketiga huruf asal ini, terbentuk beberapa kata dengan ragam makna. Makna-makna tersebut adalah memanggil, mengundang, minta tolong, meminta, memohon, menamakan, menyuruh datang, mendorong, menyebabkan, mendatangkan, mendoakan, menangisi, dan meratapi.
Menurut Syaikh Muhammad al-Ghazali (dalam al-Bayanuni, 1993: 15), dakwah adalah “ Program sempurna yang menghimpun semua pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia di semua bidang, agar ia dapat memahami tujuan hidupnya serta mnyelediki petunjuk jalan yang mengarahkannya menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Menurut Toha Yahya Omar (1992: 1), dakwah Islam adalah “mangajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuaindengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat”.
Sedangkann menurut HSM Nasaruddin Latif (1971: 11), dakwah adalah “setiap usaha atau aktivitas dengan lisan, tulisan dan lainnya yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia untuk beriman dan menaati Allahsesuai dengan garis-garis akidah dan syariat serta akhlak Islamiyah”.
Secara umum, definisi dakwah yang dikemukakan para ahli di atas menunjukkan pada kegiatan yang menunjuk pada kegiatan yang bertujuan perubahan positif dalam diri manusia. Perubahan positif ini diwujudkan dengan peningkatan iman, mengingat sasaran dakwah adalah iman. Berdasarkan pada rumusan beberapa definisi di atas, maka secara singkat, Dakwah adalah kegiatan penningkatan iman menurut syariat Islam.
2.1.2  Definisi Tentang Pengembangan Masyarakat Islam
Secara etimologis pengembangan berarti membina dan meningkatkan kualitas, dan masyarakat Islam berarti kumpulan manusia yang beragama Islam yang memilih hubungan dan keterkaitan ideologis satu dengan yang lainnya. Manusia memiliki fitrah keagamaan, sehingga manusia membutuhkan agama. Kelahiran Islam, yang ditandai dengan lahirnya Nabi Muhammad SAW pada tahun gajah tanggal 12 Rabiul awal, atau tahun 570 M, adalah sebuah momen penting dalam sejarah Islam. Karena dari sinilah dimulai perjalanan panjang pengembangan masyarakat Islam yang menyatu dalam dakwah syi'ar Islam di jazirah arab.
Pengembangan masyarakat (community development) merupakan wawasan dasar bersistem tentang asumsi perubahan sosial terancang yang tepat dalam kurung waktu tertentu. Sedangkan teori dasar pengembangan masyarakat yang menonjol pada saat ini adalah teori ekologi dan teori Sumber daya manusia. Teori ekologik mengemukakan tentang “batas pertumbuhan”. Untuk sumber-sumber yang tidak dapat diperbaruhi perlu dikendalikan pertumbuhannya. Teori ekologik menyarankan  kebijaksanaan  pertumbuhan diarahkan sedemikian rupa sehingga dapat membekukan proses pertumbuhan (zero growth) untuk produksi dan penduduk.
Sering dikatakan bahwa pengembangan masyarakat Islam adalah wujud dari dakwah bil Hal. Tokoh Amrullah Ahmad (1999), Nanih Machendrawati, dan Agus Ahmad mendefinisikan  bahwa pengembangan masyarakat Isam adalah suatu sistem tindakan nyata yang menawarkan alternatif model pemecahan masalah ummah dalam bidang sosial, ekonomi, dan lingkung-an dalam perspektif Islam. Menstransformasikan dan melembagakan semua segi ajaran Islam dalam kehidupan keluarga (usrah) kelompok sosial (jamaah), dan masyarakat (ummah). Model empiris pengembangan perilaku individual dan kolektif dalam dimensi amal sholeh (karya terbaik), dengan titik tekan pada pemecahan masalah yang dihadapi oleh masyarakat.
Tim Islamic Community Development Model dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN pernah juga merumuskan definisi untuk model pengembangan masyarakat Islam, terdiri dari unsur-unsur: 1). Mengutamakan perilaku pengembangan atau pemberdayaan masyarakat yang beragama Islam atau organisasi yang berasaskan Islam. 2). Mengutamakan pemberdayaan umat Islam yang tertinggal dalam segala hal. 3). Mengutamakan penggunaan dana yang bersumber dari dana filantropi Islam seperti Zakat Mall, Zakat Fitrah, Infak atau Sodaqoh. 4). Pendekatan pemberdayaan menggunakan pendekatan ke-Islaman. 5). Filantropi Islam jika dijadikan sebagai bantuan modal sebaiknya menggunakan sistem bagi hasil. 6). Pendamping atau agen perubah diutamakan yang beragama Islam dan 7). Melibatkan institusi mitra lokal yang berasaskan Islam.
2.2 Konsep dan Tujuan Dakwah Pengembangan Masyarakat Islam
Ada beberapa konsep dan tujuan pengembangan masyarakat Islam yang dinukilkan Ibnu Khaldun di dalam karya tulisnya yaitu:
1) Individu: Dalam pemikiran sosiologis, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa manusia itu secara individu diberikan kelebihan. Namun secara qudroti manusia memiliki kekurangan dan kelemahan di samping kelebihan yang dimiliki. Sehingga kelebihan itu perlu dibina agar dapat mengembangkan potensi peribadi untuk dapat membangun.
2) Ashabiyah: atau yang bisa juga disebut kekeluargaan merupakan sebuah kekuatan atas pertalian darah. Setiap patriotisme (solidaritas kekeluargaan). Sikap kekeluargaan ini jika dibina dan diarahkan kepada penanaman jiwa keagamaan maka akan menghasilkan sikap yang positif mengarah kepada sikap religius untuk menjalankan amar ma'ruf dan nahi munkar.
 3) Masyarakat Ijtima' al-Insani: dengan sikap saling membutuhkan, tolong menolong dan solidaritas maka terciptalah sistem sosial masyarakat yang tergabung dalam al-ijtima' al insani.Berkaitan dengan pengembangan masyarakat Islam maka masyarakat di sini diarahkan kepada terbentuknya masyarakat yang Islami.
 4) Negara: Negara dalam konteks ini adalah merupakan suatu wadah dan alat baik melalui pemimpin, konstitusi ataupun undang-undang untuk menciptakan tatanan masyarakat yang ideal sesuai dengan ajaran Islam.
5) Peradaban: tujuan akhir dari pengembangan masyarakat Islam adalah terwujudnya masyarakat madani (civil society), dengan nilai-nilai peradaban yang tinggi, menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, demokratisasi, inklusivisme, independent, makmur dan sejahtera.
2.3  Etika Dakwah Masyarakat Islam
Perkembangan masyarakat kontemporer menunjukkan bahwa kita berada dalam masyarakat plural atau majemuk, adanya klaim kebenaran truth claim dan watak missioner dari setiap kepercayaan yang mengaku sebagai pemilik tunggal kebenaran dan keselamatan.
Ditengah-tengah kehidupan masyarakat yang majemuk (plural), aktivitas dakwah yang merupakan “ajakan” yang dilakukan secara penuh hikmah dan kearifan, itulah sebabnya maka dalam menjalankan wajib dakwah kaum muslimin diperintahkan supaya berpedoman kepada wahyu Ilahi. Dalam surat An-Nahl ayat 25:
Artinya:
“Ajaklah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan pengajaran yang baik dan bertukar pikiran dengan mereka dengan cara yang baik”.
Islam telah meletakkan dasar-dasar untuk menentukan tingkah laku baik dan buruk dan memberikan sumber yang tetap juga menentukan tingkah laku moral  yaitu di dalam Qur’an dan Sunnah. Dasar-dasar itu menyangkut bagi kehidupan bermasyarakat.
Kepribadian manusia Islami tercermin pada kedamaian jiwa dan keyakinannya terhadap masa depan dan mampu mengembangkan dengan baik pengalaman kehidupannya yang merupakan keseimbangan yang padat dengan keinginan kemanusiaan untuk menaklukkan alam dan memperoleh kesenangan.
Untuk mengarahkan pandangan Islam pada realitas pembangunan yang sedang berjalan pada masyarakat berkembang ini. Dakwah bisa dilakukan secara lisan, tulisan ataupun dengan contoh teladan.
Berdakwah tidak lain merupakan sebuah proses komunikasi, berkomunikasi kepada manusia dengan menggunakan pendekatan persuasif dengan begitu da’i dapat diiringi dengan etika yang baik serta dengan penerapan tekhnik dan tekhnologi, dalam pelaksanaan pembangunan merupakan rangsangan yang kuat bagi  kesadaran bermasyaakat sehingga diharapkan menjadi acuan bagi masyarakat dalam berprilaku pembangunan yang etis.
2.4  Efektivitas Dakwah Bil Hal
Pada hakekatnya dakwah adalah usaha atau upaya untuk mengubah suatu keadaan tertentu menjadi keadaan lain yang lebih baik menurut tolak ukur agama Islam. Perubahan yang dimaksud terjadi dengan menumbuhkan kesadaran dan kekuatan pada diri objek dakwah.
Dari sisi lain perubahan berarti juga upaya menjadikan objek dakwah mengetahui, mengamati dan mengamalkan Islam sebagai pandangan dan jalan hidup. Dengan demikian dakwah juga merupakan proses untuk pendidikan masyarakat komunikasi, perubahan sosal atau pembangunan itu sendiri. Dengan demikian aktivitas dakwah Islam bukan hanya sekedar suatu dialog lisan melainkan dengan perbuatan atau karya yaitu dakwah bil Hal.
Dalam mencapai keberhasilan aktivitas dakwah Islam, banyak metode dakwah yang dapat dipilih dan digunakan salah satunya adalah metode yang diberikan oleh Rasulullah SAW yaitu percontohan secara langsung yang dikenal dengan Uwatun Hasanah. Efektif atau tidaknya suatu metode dakwah sangat bergantung beberapa hal yang melingkupinya baik prinsip-prinsip penggunaan, metode atau juga faktor-faktor yang mempengaruhi pemikiran dan penggunaan metode tersebut.
Dalam merealisir ajaran Islam disemua segi kehidupan manusia. Konsepsi dakwah bukan hanya identik dengan tabligh tetapi meliputi semua segi kehidupan serta tabligh hanya merupakan bagian dari dakwah Islam.
Jadi suatu kegiatan dapat dikatakan dakwah apabila mencangkup sistem usaha bersama orang beriman dalam rangka mewujudkan ajaran Islam dalam segi kehidupan sosial kultural. Dalam memandang dakwah menunjukkan dua hal;  pertama, adanya organisasi (sistem) dakwah untuk menunaikan fardhu kifayah dan Kedua, pelaksanaan dakwah perorangan dalam hubungannya dengan kriteria di atas maka yang pertama dapat disebut dakwah dan kedua dapat disebut tabligh. Terbentuknya lembaga dakwah berangkat dari kesadaran individual untuk melaksanakan tabligh yang berkembang menjadi kesadaran kolektif untuk melaksanakan dakwah dalam suatu sistem tertentu dalam lembaga dakwah.
Allah telah memberikan petunjuk bahwa dalam melaksanakan tugas wajib dakwah Islamiyah fisabillillah haruslah dengan suatu organisasi khusus, harus ada lembaga tersendiri seperti yang tercakup dalam surat Ali Imran ayat 102-105.
Dalam ayat tersebut di atas mewajibkan agar umat Islam mendirikan jama’ah khusus, satu organisasi yang bertugas diladang dakwah dan organisasi itu haruslah di atas dua asas pokok. Keimanan dan persaudaraan sehingga jama’ah muslim akan sanggup menunaikan tugas beratnya dalam kehidupan manusia dan dalam sejarah manusia, tugas menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar menegakkan kehidupan di atas dasar ma’ruf dan membersihkan dari kotoran munkar, serta diperingatkan jangan bercerai berai dan bersengketa supaya tetap kuat.
Oleh karena itu untuk mendukung dakwah Islamiyah perlu adanya satu lembaga khusus yang bertugas dalam bidang dakwah Islamiyah berdasarkan asas keimanan dan persaudaraan tanpa adanya organisasi dan lembaga dakwah, dakwah Islamiyah tidak dapat berjalan dengan baik bahkan kemungkinan besar akan berhenti sama sekali.Semua itu merupakan perwujudan dari dakwah bil Hal, dakwah dengan perbuatan nyata.
Rasulullah telah memberikan contoh dakwah bil Hal yaitu ketika pertama kali tiba di Madinah yang dilakukan Rasulullah adalah dengan membangun masjid Quba, menyatukan kaum Anshor dan Muhajirin dalam ikatan ukhuwah Islamiyah dan seterusnya.  Kenyataan membuktikan betapa efektifnya dakwah bil hal tanpa mengabaikan dakwah bil lisan, maka dakwah bil hal seharusnya menjadi prioritas utama.
2.5  Pendekatan Psikologis Melalui Dakwah Bil Hal
Islam mengatur hubungan antar manusia, baik antar muslim dengan muslim, atau muslim dengan non muslim, apakah antara kedua belah pihak ada hubungan kekerabatan persaudaraan atau hubungan sosial dengan demikian satu sama lain saling menghargai keberadaannya. Masyarakat tidak saja menjadi objek tetapi menjadi subjek dalam pembangunan yang pada sisi lain akan mengembangkan keswadayaan dan sumber daya yang ada disekitar mereka. Dalam hal ini perlu peran serta baik perorang maupun lembaga yang dapat berperan sebagai motivator sebab pada dasarnya strategi pendekatan ini intinya usaha penyadaran masyarakat agar dapat mengembangkan sumber daya yang ada pada diri mereka, lingkungan dan alam sekitar untuk mendapatkan hasil lebih baik.
Disinilah dengan potensi sosial keagamaan da’i dan lembaga dakwah bisa melakukan perannya sebagai lembaga swadaya masyarakat terutama melalui nilai-nilai keagamaan seperti kemandirian, keadilan, kerja sama dan sebagainya. Mengingat kebutuhan masyarakat itu selalu ada dan bahkan selalu berkembang, maka apabila da’i dan lembaga dakwah dapat melakukan perannya maka akan selalu mendapat tempat di masyarakat bahkan bisa lebih mengembangkan potensi kemasyarakatan.
Sementara itu banyak di antara para pakar yang lebih menggunakan kata pendekatan atau approach karena lebih bersifat rinci mengandung pengertian dan langkah langkah yang sistematis untuk mencapai suatu tujuan. Menjadi pertimbangan para da’i dan mubaligh di harapkan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan dan penggunaan suatu metode agar metode yang dipilih dan digunakan benar-benar fungsional dan harus memperhatikan strategi dakwah yang digunakan tentu saja dengan dipertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti dengan mengenali sasaran dakwah, pemilihan media yang baik, pengkajian akan tujuan dakwah agar dakwah harus dapat dimengerti dan yang terpenting adalah peranan da’i dalam pelaksanaan dakwah dari bagaimana menarik objek dan juga kredibilitasnya.
Dengan kata lain strategi dakwah harus memperhatikan beberapa azas dakwah salah satunya azas psikologi. Hal ini berhubungan dengan kejiwaan manusia, baik da’i maupun sasaran dakwah memiliki karakter yang berbeda antara satu dan lainnya, apabila masalah agama yang merupakan masalah ideologi yang tidak luput dari masalah psikologi.
Azas Psikologi ini harus benar-benar dapat mendasari dalam aktifitas dakwah. Hal ini harus benar-benar diperhatikan tentunya dengan profesionalisme seorang juru dakwah, dan perlunya para juru dakwah memiliki pengetahuan–pengetahuan psikologius tersebut agar tujuan dakwah dapat dicapai.
Di antara ilmu-ilmu yang harus dimiliki diantaranya tentang kepribadian seorang da’i, tujuan dakwah, materi dakwah, masyarakat sebagai objek dakwah, metodologi dakwah dan media dakwah.
Keberhasilan dakwah tidak hanya dengan metode saja tetapi dengan berbagai cara pendekatan harus dikerjakan sesuai dengan keadaan objek dakwah dan keberhasilan dakwah Islam sangat bergantung dengan banyak hal.
Adapun beberapa hal yang mendasari keefektifan metode dakwah, misalnya saja dalam peristiwa perjanjian Hudaibiyah sebagaimana yang direkontruksikan oleh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya yaitu:
1. Untuk melakukan atau meningkatkan sesuatu ada dua hal dasar yang mempengaruhi watak manusia yaitu pengaruh luar atau lingkungan dan pengaruh dari dalam atau keturunan. Dengan demikian aktivitas suatu kelompok sosial akan sangat mempengaruhi individu yang berada disekitarnya. Dalam dakwah Islam da’i (kelompok sosial kolektif) akan mempengaruhi mad’u.
2. Suatu kelompok manusia akan menjadi masyarakat yang sebenarnya bila mana anggota masyarakat telah melakukan imitasi yaitu saling tiru meniru, saling ikut mengikuti dan saling contoh mencotoh terhadap aktifitas anggota lainnya.
3. Bersamaan dengan terjadinya struktur dalam interaksi kelompok, maka terbentuklah norma-norma tingkah laku khas antara anggota kelompok. Norma ini merupakan pedoman untuk mengatur pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam berbagai situasi sosial.
Dengan demikian dapat ditarik benang merah bahwa sikap pola dengan tingkah laku serta kondisi kejiwaan kelompok sosial muslim akan sangat efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan dakwah bila benar-benar dimanfaatkan secara optimal.
Struktur sosial yang otoriter dan represif, misalnya mudah merangsang sifat agresif dalam diri manusia. Di samping itu, struktur yang menekan juga akan mengakibatkan kebosanan. Kebosanan biasanya merangsang tumbuhnya sikap apatis, yang pada gilirannya dapat menentukan kreativitas dan produktivitas. Akibat lebih jauh adalah di dalam kehidupan masyarakat berkembang, aktivitas yang kontra produktif semata-mata sebagai kompensasi membebaskan diri dari kebosanan dengan melancarkan berbagai bentuk kejahatan, sikap amoral dan tidak etis.
Nilai-nilai agama baik yang berupa nilai etik maupun nonetik, akan berjalan atas dorongan kesadaran dari dalam diri individu, suatu mekanisme kendali internal yang bersumber pada keimanan dan ketakwaan.
Masyarakat didirikan di atas ketetapan hati para motivatornya untuk tetap bertahan dalam cara, jalan dan pesan Allah, sebagai perwujudan suatu kultur dan peradaban yang sehat dan berakar kokoh dalam proses kesejahteraan, sekaligus yang berpenampilan kerahmatan di dalam susunan dan tata kemasyarakatan itu sendiri.
Melihat sasaran dakwah yang begitu luas sementara perkembangan teknologi begitu pesatnya maka dalam menjalankan dakwah perlu menggunakan media yang sesuai dengan kelompok sasaran yaitu klasifikasinya secara psikologis ditinjau dari umur, status sosial, tingkat pendidikan dan kebutuhan kelompok sasaran itu sendiri.
Dakwah dalam bentuk pengembangan masyarakat dan pemberdayaan masyarakat adalah proses dari serangkaian kegiatan yang mengarah pada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam hal ini dakwah setidaknya ditempuh karena paling mendasar dan mendesak, dakwah dalam bentuk aksi-aksi nyata. Dakwah bil Hal ini sebenarnya sudah banyak di laksanakan kelompok-kelompok Islam, namun masih sporadis dan tidak dilembaghakn, sehingga menimbulkan efek kurang baik. Misalnya saja pendekatan untuk mengatasi masalah kemiskinan yaitu melalui pendekatan  basic need approach  (pendekatan kebutuhan dasar). Untuk mengatasi yaitu jangan memberi “ikan” terus menerus, tapi harus memberi kailnya dan harus diberi tahu  cara mengailnya dengan baik. Lahan yang baik dan bagaimana dapat menggunakan kail untuk mendapat ikan.
Berarti tidak hanya cukup dengan diberi modal tetapi mereka juga harus diberi keterampilan, dengan pendekatan itu masalah yang dihadapi kebodohan atau keterbelakangan harus di atasi dengan memberi keterampilan dan baru kemudian modal serta harus meyakinkan atau memberi motivasi sehingga memiliki kemauan berusaha dan tidak hanya menanti.
Usaha dakwah bil Hal mempunyai implikasi terhadap pengembangan masyarakat yaitu:
1. Masyarakat yang menjadi sasaran dakwah, pendapatannya bertambah untuk membiayai pendidikan keluarga atau memperbaiki kesehatan.
2. Dapat menarik partisipasi masyarakat dalam pembangunan, sebab masyarakat terlibat sejak perencanaan sampai pelaksanaan usaha dakwah bil Hal.
3. Dapat menumbuhkan atau mengembangkan swadaya masyarakat dan dalam proses jangka panjang bisa menumbuhkan kemandirian.
4. Dapat mengembangkan kepemimipinan daerah setempat dan terkelolanya sumber daya manusia yang ada, sebab anggota kelompok sasaran tidak saja jadi objek kegiatan, tetapi juga menjadi subjek kegiatan.
5. Terjadi proses belajar mengajar antara sesama warga yang terlibat dalam kegiatan, sebab kegiatan direncanakan dan dilakukan secara bersama. Hal ini menimbulkan sumbang saran secara timbal balik.
BAB III
PENUTUP
3.2 Kesimpulan
Secara umum, definisi dakwah yang dikemukakan oleh para ahli menunjukkan pada kegiatan yang menunjuk pada kegiatan yang bertujuan perubahan positif dalam diri manusia. Perubahan positif ini diwujudkan dengan peningkatan iman, mengingat sasaran dakwah adalah iman. Berdasarkan pada rumusan beberapa definisi di atas, maka secara singkat, Dakwah adalah kegiatan penningkatan iman menurut syariat Islam.
Masyarakat dalam kehidupan selalu mengalami perubahan dan perubahan itu tidak selalu lebih baik bahkan terjadi sebaliknya. Manusia akan mengalami krisis identitas dirinya sebagai makhluk yang mulia disisi Allah, karena itu dakwah juga mengalami perubahan sesuai dengan transformasi sosial yang berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ada beberapa konsep dan tujuan pengembangan masyarakat Islam yang dinukilkan Ibnu Khaldun di dalam karya tulisnya yaitu: 1) Individu; 2) Ashabiyah; 3) Masyarakat Ijtima' al-Insani; 4) Negara; dan 5) Peradaban.
Dakwah dan pengembangan masyarakat melalui proses dari serangkaian kegiatan yang mengarah pada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat dan dakwah yang efektif harus mengacu pada masyarakat untuk meningkatkan kualitas keislaman juga kualitas hidupnyadalam menumbuhkan etos kerja.
Dalam mengarahkan pandangan Islam pada realitas pembangunan yang sedanag berjalan pada masyarakat berkembang dakwah dapat dilakukan dengan contoh teladan. Hal ini berhubungan dengan kejiwaan manusia baik bagi da’i maupun sasaran dakwahnya. Karena keberhasilan dakwah tidak hanya dengan satu metode tetapi dengan pendekatan yang sesuai dengan sasaran dakwah dan tujuan dakwah.
Melihat sasaran dakwah yang begitu luas sementara perkembangan tekhnologi begitu pesat dalam pengembangan masyarakat dan pemberdayaan masyarakat maka menjalankan dakwah perlu menggunakan media yang sesuai dengan kelompok sasaran yaitu klasifikasinya secara psikologis yang ditinjau dari umur, status sosial, tingkat pendidikan dan kebutuhan kelompok sasaran itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

Aziz, Moh. Ali. 2009. Ilmu Dakwah. Jakarta: Kencana.
Mahfudh, Sahal. 1984. Tentang Pengembangan Masyarakat. Jakarta.
Razak, Nasruddin. 1976. Metodologi Dakwah. Semarang: Toha Putra.
Yanti, Fitri. Pengembangan Masyarakat Melalui Dakwah Bil Hal (Suatu Pendekatan Psikologi). http://www.google.com/search?ie=UTF-8&oe= UTF-8&sourceid=navclient&gfns=1&q=dakwah+pengembangan +masyarakat+Islam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar